Dikurung Hingga Meronta-Ronta, Orangtua: Kami Harus Hidup


Effendi sering keluar rumah dan melakukan tindakan aneh di luar batas kewajaran. Awalnya, Latifah (36) ibu kandung Efendi mengatakan jika anaknya itu saat bayi terlihat normal. Ia juga tumbuh layaknya bayi pada umumnya.

Namun, saat berusia 3 tahun, kejanggalan mulai terlihat dari diri Efendi. Saat itu Efendi tidak bisa bicara dan berjalan, padahal pada usia 3 tersebut anak harusnya sudah bisa melakukannya.

"Dia hanya merangkak kemana-mana, bicaranya tidak dimengerti karena tidak ada bahasa yang bisa diucapkan," ujar Latifa dikutip dari Kompas. Sebelum tinggal di kandang ayam, Efendi pernah ditempatkan di surau, namun ia masih bisa keluar dan mulai memakan makanan yang tidak layak seperti dedak yang ditemukannya.

"Efendi pernah makan olahan dedak untuk pakan sapi. Bahkan kulit buah siwalan, bunga, dedaunan juga dimakan. Makanya kami coba untuk dikurung," tambah Latifah. Pernah juga suatu ketika, Efendi hilang dan ditemukan pada malam di pinggiran sungai dan kuburan belakang rumah.

"Pernah sekali Efendi luput dari perhatian kami, dia justru hilang dan baru ditemukan di kuburan belakang rumah," ujar Latifah dikutip dari Tribun Madura. Tak sekali, setelahnya Efendi juga kembali hilang dan ditemukan di dekat hutan.

"Pernah juga kejadian, Efendi ditemukan di pinggir hutan di timur rumah," kata Hamzah. Orangtuanya sendiri sebenarnya tak tega, namun mereka terpaksa harus mengurung Effendi demi keselamatan anak itu sendiri.

Mereka berdua harus bekerja demi membiayai hidup dan memberi makan ketiga anaknya. "Kalau bicara perasaan, perasaan kami iba dan kasihan. Tapi bagaimana lagi, ini sudah nasib keluarga kami." "Kami harus hidup, harus bekerja. Kalau tidak bekerja, keluarga kami mau dapat dari mana biayanya," ungkap Hamzah.

Sementara itu, saat didatangi beberapa orang yang menyambanginya, Efendi tampak tertawa girang. Bahkan ia mencoba meraih baju yang diberikan orang yang mendatanginya. Ketika orang yang menyambanginya pergi, raut wajah Efendi tampak tak rela, ia juga meronta-ronta seperti minta untuk dikeluarkan dari kandang.

Melansir dari Tribun Madura pada Jumat (4/9/2019), rumah orangtua Efendi sendiri juga tampak tak layak. Dindingnya dan atapnya hanya terbuat dari anyaman bambu. Bahkan sesekali tetangganya dengan sukarela memberikan makan kepada Effendi.

Maryam, salah satu tetangganya juga mengaku jika Efendi sebenarnya senang saat ada orang yang mendatanginya. Ibunya juga tampaknya terpukul karena tak mampu memberikan perawatan dan pengobatan untuk anaknya, hal ini terlihat saat ia menceritakan kondisi anaknya sembari matanya berkaca-kaca.

"Karena kami keterbatasan ekonomi, kami tidak mampu untuk membawa anak kami berobat secara terus menerus," ucapnya. "Kami berharap ada relawan yang peduli terhadap anak saya untuk berobat. Biar anak saya bisa sembuh total. Semoga ada keajaiban," tutupnya sembari mengusap air mata.

LihatTutupKomentar