Sudah Buta dan Harus Bertahan Hidup Tanpa Makanan di Gubuk Reyot


Anak-anak muda yang datang itu pun menyuguhi mereka dengan mi, makanan ringan dan telur yang dibeli di salah satu warung di kampung.

Keduanya juga mengalami kebutaan karena faktor usia. Sitti Muhda lalu bercerita, dia punya seorang putri, namun sudah lama mereka berpisah karena sang anak mengikuti suaminya.

Kondisi hidupnya, lanjut Sitti Muhda, juga tak jauh berbeda dengannya. Sementara itu, sang adik, Solihin, mengaku sudah biasa dengan keterbatasan penglihatan yang menderanya bertahun-tahun.

Sudah biasa baginya meraba lantai atau dinding rumah yang sudah keropos agar terhindar dari menabrak barang-barang saat berjalan atau tersandung lantai yang sudah berlubang-lubang.

“Agar tidak terperosok di lubang lantai, saya kerap meraba-raba sambil jongkok,” ungkap Solihin. Namun demikian, Sholihin mengaku tetap tegar dengan kondisinya.

Walau mengaku tak ingin menyusahkan siapa pun, Solihin mengaku, mereka hanya makan dari pemberian tetangga atau orang yang datang menjenguk.

Bahkan terkadang kedua lansia ini tidak makan sama sekali, jika persediaan beras atau makanan di rumahnya telah habis, sementara tak ada lagi warga yang datang menjenguk di rumahnya.

Koordinator Komunitas Pemuda Mateng, Rahmin Mahrul, yang menemukan kedua lansia ini mengatakan, mereka datang karena mendengar kabar bahwa keduanya telah kelaparan karena sudah berhari-hari tak makan.

Mereka mendapati, persediaan makanan apapun di rumahnya dari para dermawan sudah lama habis. “Kondisinya miris, tampak lemas dan ulu hatinya sakit karena sudah berhari-hari tidak makan,” kata Rahmin.

LihatTutupKomentar