Kades Bersimbah Darah Akibat Di Ba-cok Warga yang Sakit Hati Padanya


Kades Bersimbah Darah Akibat Di Ba-cok Warganya

Karena Sakit Hati Di Ledek Sudah Banting Tulang Cari Nafkah

Akibat ucapan kasar seorang kepala desa membuat dirinya harus meringis kesakitan. Kepalanya bersimbah darah tak lama setelah menghina seorang warganya.

Ucapan kasar seorang kades tersebut sampai membuat warga merasa sakit hati. Wajar saja, kades itu menghina dagangan warganya. Sakit hati dengan ucapan tersebut, warga membacok kepala Kades Tanjung Gunung, Joni Surbakti menggunakan kampak.

Kepala Desa Tanjung Gunung, Kecamatan Sei Bingai Joni Surbakti (50) harus merasa akibat dari mulutnya sendiri.

Melansir Tribun Medan, akibat luka tebasan kampak warganya ia langsung dilarikan ke RSU Bidadari Kebun Lada, Kota Binjai pada Rabu (6/5/2020).

Hal ini berawal ketika Kades handak keluar dari kantor Desa Tanjung Gunung, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat.

Tadinya kades tersebut akan mengecek pos Covid-19 di Desa Tanjung Gunung. Belum masuk ke mobil, tiba-tiba saja ia diserang secara brutal. Serangan tersebut mengenai kepala dan tangan hingga membuat kades roboh.

Kades Joni Surbakti sempat berupaya untuk bangkit. Ia mencoba untuk masuk ke dalam kantor. Sementara itu pelaku langsung melarikan diri. Pelaku kemudian dibawa oleh Ketua Ormas Pemuda Pancasila J Payo Sitepu ke Kepolisian.

Kasus ini kini ditangani oleh Polres Binjai. Kasubag Humas Polres Binjai AKP Siswanto Ginting mengatakan pelaku diantar langsung ke kantor polisi.

"Pelaku sudah diamankan pada Jumat malam semalam sekitar pukul 20.30 WIB. Pelaku Hiskia Agamel Ginting (18) warga Desa Tanjung Gunung Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat masih ikut orangtuanya," kata AKP Siswanto Ginting, Sabtu (11/5/2020).

AKP Siswanto Ginting membenarkan kejadian ini berawal darik sakit hati pelaku. Kades tersebut menghardik pelaku yang sedang mencari nafkah mencincang buah sawit.

"Jadi ceritanya jam 13.00 WIB pelaku menyincang sawit milik Tenang Ginting dekat Jambur Desa Tanjung Gunung, kemudian korban tiba di depan kantor desa mengenderai mobil dan memarkirkan mobil di TKP,

selanjutnya korban berjalan kaki melewati pelaku sambil berkata mampus tidak laku sawitmu, dan langsung berjalan menuju kantor kepala desa," ungkap Kasubbag Humas.

Ternyata, kata-kata itu membekas dan menyayat perasaan hati pelaku. Ia tak bisa menahan amarahnya. Pelaku menunggu korban keluar dari kantornya di kedai kopi yang berada di depan Kantor Kepala Desa Tanjung Gunung.

"Sekitar pukul 13.15 WIB korban keluar dari kantor desa menuju mobilnya yang parkir di jalan depan kantor desa. Selanjutnya pelaku mengejar dan melakukan penganiayaan mengahajar korban dengan kampak," jelasnya.

Setelah meluapkan rasa sakit hatinya, pelaku melarikan diri dan membuang kampaknya ke sungai Mencirim yang tidak jauh dari TKP.

LihatTutupKomentar