Kisah Seorang Ibu Yang Mampu Lahirkan 10 Anak Penghafal Al-Quran, Masya Allah...


Kisah Seorang Ibu Yang Mampu Lahirkan 10 Anak Penghafal Al-Quran

Masya Allah...

Apa yang diperhatikan kaum Adam terhadap wanita yang baru pertama dilihatnya? Boleh Anda bayangkan dan jawab sendiri. Umumnya laki-laki akan memperhatikan bentuk tubuh sosok yang dipandangnya, wajar dan manusiawi.

Okelah, fisik menjadi acuan pertama, meski tidak semua memaknainya sebagai acuan utama. Setelah fisik biasanya laki-laki ingin mengetahui sifat wanita yang menjadi sasarannya. Lalu, bagaimana untuk mengenal sifat mereka padahal kita belum pernah berinteraksi dengannya? Perhatikan cara duduknya.

Seberapa penting kah cara duduk untuk mengetahui sifat-sidat wanita? Ada yang lebih penting.

Wanita memang makhluk ciptaan Allah yang cukup unik. Menurut riwayat, ibu Hawa sebagai penghulu para wanita tercipta dari salah satu tulang rusuk suaminya, yaitu Nabi Adam alaihissalam. Kata orang ia sangat rapuh, namun sebagian yang lain bilang wanita lebih tegar dan tangguh daripada laki-laki. Karena tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, ia perlu penanganan khusus. Jika dipaksa untuk lurus, dia akan patah. Namun jika tidak diluruskan, ia akan selalu seperti itu. Unik memang.

Seiring dengan munculnya peradaban, sosok wanita tetap memegang peranan utama dalam segala sendi kehidupan. Setiap bangsa berbeda-beda dalam memperlakukan wanitanya. Kita mengenal kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno yang sangat maju di zamannya. Di Mesir Kuno lebih tersohor lagi, siapa yang tidak mengenal Cleopatra, Ratu Mesir yang juga menjadi kekasih kaisar besar Romawi , Julius Caesar.

Kembali ke keluarga Mutammimul Ula di atas.

Pada akhirnya kita dapat menarik simpulan, di balik kesuksesan Kang Tamim ternyata ada satu sosok wanita yang telah melahirkan sebelas keturunannya. Siapa lagi kalau bukan istrinya, Wirianingsih. Memang siapa dia?

Sosok besar yang bertitel lengkap Dra. Wirianingsih, Bc.Hk. lahir di Jakarta, 11 September 1962 (48 tahun). Selain ibu rumah tangga, banyak aktivitas yang dia lakukan diantaranya menjadi dosen, kuliah pasca sarjana, dan aktivis perempuan. Terkini adalah menjadi anggota Dewan Pertimbangan PP Persaudaraan Muslimah (Salimah) bersama Ustazah Yoyoh Yusroh, Nursanita Nasution, dll dimana sebelumnya dia menjadi Ketua Umum. Mereka adalah anggota DPR dari fraksi yang sama dengan Mutammimul Ula.

Lalu, metode apa yang Kang Tamim dan Mbak Wiwi terapkan dalam mendidik putra-putrinya?

Kuncinya adalah keseimbangan proses. Begitu simpulan dari metode pendidikan anak-anak sebagaimana tertulis dalam buku “10 Bersaudara Bintang Al-Quran. “ Walapun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Maghrib jadwal mereka yaitu berinteraksi dengan Al-Quran. Guna mendukung kesuksesan program ini, mereka mencanangkan kebijakan sederhana, yakni: menyingkirkan televisi dari rumah, tidak memasang gambar-gambar selain kaligrafi, tidak membunyikan music-musik yang melalaikan, dan tidak ada perkataan kotor di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang Al-Quran adalah visi dan konsep yang jelas. Pertama adalah menjadikan putra-putri seluruhnya hafal Al-Quran.

Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. Setelah salat Subuh dan Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Quran yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih batita, Wirianingsih konsisten membaca Al-Quran di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya.

Ketiga, mengkomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun awalnya merasa terpaksa, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Quran sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini.

Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Quran, mereka diberi hadiah. Barangkalo semacam reward atas pencapaian mereka, mengenai punishment tidak dijelaskan secara rinci. Penulis buku itu juga membahas urgentitas menjadi hafiz Al-Quran.

Penulis mengklasifikasikannya menjadi dua bagian: keutamaan dunia dan keutamaan akhirat. Fadhail dunia antara lain: hifzul Al-Quran merupakan nikmat rabbani, mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Al-Quran mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), dihormati umat manusia,

dan menjadi keluarga Allah di muka bumi. Sedangkan fadhail akhirat meliputi: Al-Quran menjadi penolong (syafaat) penghafalnya, meninggikan derajat di surga, penghafal Al-Quran bersama para malaikat yang mulia dan taat, diberi tajul karamah (mahkota kemuliaan), kedua orang tuanya diberi kemuliaan, dan pahala yang melimpah.

LihatTutupKomentar