Masya Allah, 25 tahun Jadi Tukang Tambal Ban. Akhirnya Terkumpul Uang Untuk Naik Haji


Masya Allah, 25 tahun Jadi Tukang Tambal Ban. 

Akhirnya Terkumpul Uang Untuk Naik Haji

Sekali lagi, bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Termasuk soalan (maaf) orang kurang mampu pergi naik haji.

Ibadah haji memang ibadah istimewa yang diwajibkan bagi umat Islam yang mampu dalam fisik, kesehatan, dan terlebih lagi dalam keuangan, karena mengingat biayanya yang tidak sedikit.

Karena itu, berhaji hanya ditujukan bagi yang mampu.

Namun seperti yang diketahui, bahwa menginjakkan kaki ke Tanah Suci adalah impian semua umat Islam, sehingga banyak yang mulai mentekadkan diri untuk mewujudkannya meski ekonomi dirasa tidak memadai.

Itu pula yang dilakukan oleh Rani, seorang ibu berusia 55 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban di Jalan Tegalan, Matraman, Jakarta Timur.

Penghasilan dari tambal ban sendiri tidak perlu ditanyakan lagi, hasilnya tidak menentu. Dalam sehari, seperti dilansir TribunJakarta.com, 

Rani terkadang mengantongi penghasilan mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Namun karena kondisi masih pandemi, penghasilan paling besar yang didapatnya hanya mencapai Rp 75 ribu.

Dengan nominal sebesar itu, cukup sulit rasanya untuk meuwujudkan impian naik haji. Ditambah, ada dua anaknya yang membutuhkan biaya sekolah. 

Namun karena tekad yang sudah bulat serta niat tulus dalam hati, Rani berhasil membagi uang pendapatannya untuk dititipkan di sebuah tempat travel haji dan umrah.

“Saya kumpulin kan sedikit-sedikit asal ada. Saya berangkat sekitar 15 tahun lagi. Itu uangnya sebagian sudah saya tabung juga pas daftar haji,” tuturnya.

Pekerjaan yang seharusnya dilakukan kaum pria ini sendiri mulai digeluti Rani ketika suaminya didiagnosis diabetes dan gerak tubuhnya menjadi terbatas.

“Kalau tambal ban sudah ada dari 34 tahun lalu. Memang lokasinya ada di sini. 

Kemudian bapak (suami) sakit gula, saya yang gantikan (bekerja tambal ban). Kalau enggak begitu kan anak-anak enggak bisa lanjutin sekolah. Makan pun sulit,” ungkapnya.

Diakuinya, pada saat awal-awal menjalani aktivitas sebagai penambal ban terasa begitu lelah, bahkan sempat terbesit niatan untuk berhenti.

“Awalnya susah ya. Apalagi pas mencongkel ban luar itu buat ambil ban dalamnya, itu lumayan berat dan kadang keras. Awal-awal tuh merasa lelah banget padahal baru satu motor yang ditambal.”

“Seiring berjalannya waktu akhirnya mulai terbiasa dan justru jadi betah ngelakonin kerjaan begini. 

Makanya pas pandemi sepi yang tambal ban, malah suka kangen. Kayak bawaannya mau ngotak-ngatik ban aja gitu,” pungkasnya.

LihatTutupKomentar