💗 Seorang Ibu Jalan Kaki 10 km demi Dapatkan Sembako 💗


💗 Seorang Ibu Jalan Kaki 10 km demi Dapatkan Sembako 💗

 Kondisi ekonomi yang sulit, apalagi di masa pandemi Covid-19, membuat seorang ibu asal Cianjur nekat berjalan kaki sejauh 10 kilometer.

Tak cuma sendiri, dia bahkan jalan bersama tiga anaknya yang masih berusia balita.

Hal itu ternyata dilakukannya setiap tahun.

Seperti dilansir Kompas.com, ibu itu bernama Imas Yani (30), warga Kampung Cikanyere RT 03/04, Desa Cieundeur, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.

Dia mengajak empat anaknya berjalan kaki ke rumah dermawan yang dia panggil Bu Haji.

Mereka menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer untuk mendapatkan sembako gratis dari Bu Haji di kawasan Bilenglang, Kecamatan Cilaku.

Dari empat anak yang diajak, tiga orang masih balita dan mereka tidak mengenakan sandal. Empat anak Imas adalah Iis Samsiah (2,5), Najir (3), Anisa (4), dan Fitria (10).

"Saya berjalan kaki pergi dari rumah tadi pukul 06.00 WIB, tiba di rumah bu haji tadi pukul 08.00 WIB," kata Imas.

Ibu berusia 30 tahun itu bercerita setiap tahun jelang Lebaran dia selalu datang ke rumah dermawan itu untuk mendapatkan beras dan minuman.

Setelah bantuan ada di tangan, ibu dan empat anaknya itu kembali pulang jalan kaki. Mereka memilih jalan kaki karena tak memiliki ongkos untuk naik kendaraan umum.

"Saya tidak dapat bantuan covid-19, sudah setiap tahun saya seperti ini, berjalan kaki ke rumah bu haji," kata Imas.

Dia bercerita perjalanan pulang lebih lama. Jika pagi dia membutuhkan waktu dua jam untuk jalan kaki sejauh 10 km, karena cuaca masih teduh dan tenaga mereka masih banyak.

Sedangkan saat perjalanan pulang, cuaca sudah panas sehingga mereka kerap berteduh. Selain itu mereka harus membawa barang bantuan di tangan.

"Pulangnya lumayan lama ini, karena panas dan bawa barang jadi kami banyak berteduh, kasihan juga anak-anak ada yang tak pakai sandal jadi kakinya pasti panas," katanya.

Saat ditemu Tribun Jabar, Imas dan empat anaknya sedang berteduh di emperan warung yang tutup di jalan perbatasan Kecamatan Cilaku dan Warungkondang.

Keringat terlihat jelas di wajah mereka berlima. Mata Imas juga terlihat nanar ke menatap ke arah beton raya.

Dia terlihat lelah. Sedangkan tiga balitanya bersandar di dinding toko dengan kaki diselonjorkan. Sedangkan satu anaknya duduk dengan memeluk lutut meniru duduk sang ibu.

Celana panjang tiga baita tersebut diturunkan hingga bagian bawah celana menutupi telapak kakinya.

Bagian bawah sengaja dibasahi air agar tidak panas saat menjadi alas kaki saat berjalan. Karena dibuat alas jalan, bagian bawah celana mereka kotor dan menghitam.

Suara sang ibu terdengar parau, dia berusaha mengeluarkan suara lirih sambil meminta anak-anaknya untuk duduk mendekat.

Imas bercerita jika dia masih memiliki suami. Namun sang suami tak bekerja dan menganggur. Dia tak berdaya dan tak bisa mencari pekerjaan karena masih harus mengurus empat anaknya yang masih kecil-kecil.

"Suami ada tapi menganggur," kata Imas.

Tak lama setelah beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Imas membawa tiga plastik bantuan dari dermawan yang dia panggil Bu Haji. Satu plastik berisi beras dan mi instan, dan dua plastik berisi kecap, telur, dan makanan ringan.

Saat mereka bejalan, sang anak yang masih kecil memilih jalan di rumput dan tanah untuk menghindari beton aspal yang panas.

LihatTutupKomentar